Perilaku Inteloren di Negara Indonesia Dipengaruhi Politik

intoleran dipengaruhi politik

Di Istana Kepresiden Bogor, Jawa Barat, presiden Indonesia Joko Widodo mengemukakan bahwa kasus intoleran di negara Indonesia muncul karena didorong adanya peristiwa-peristiwa politik yang terjadi di Indonesia.

Jokowi lalu mengaitkan fenomena intoleransi yang marak di media sosial dengan kontestasi Pilpres. Mantan Gubernur DKI Jakarta ini mengatakan, bibit-bibit intoleransi tumbuh karena para politikus saling mengadu domba.

“Coba lihat di medsos isinya seperti apa. Ini pengaruh politik yang sering mengadu-adu kita, muncul intoleransi karena di sini di bentur-benturkan. Ini yang sekarang saya sampaikan berbahaya sekali,” kata dia.

Tak hanya di media sosial, kata Jokowi, perpecahan akibat kontestasi politik terjadi juga di dunia nyata. Di mana, warga antarkampung bertengkar dan tidak saling sapa. Bahkan, antartetangga saling bertikai karena perbedaan pilihan politik.

“Ini pengaruh politikus kita yang pinter-pinter mempengaruhi. Masyarakat terpengaruh, termasuk Pilpres. Pilpres juga 4 tahun yang lalu sampai sekarang masih dibawa-bawa,” pungkas Jokowi.

Deklarasi Percaya Indonesia

Bertemu Jokowi, peserta Kongres Indonesia Millenial Movement Tahun 2018 membacakan Deklarasi Percaya Indonesia. Deklarasi tersebut dibacakan oleh Yokbet Merauje, perwakilan peserta dari Provinsi Maluku. Berikut isi Deklarasi Percaya Indonesia:

Kami generasi milenial Indonesia dengan ini berkomitmen untuk:

  1. Selalu berpikir kritis dan berpartisipasi dalam menangkal intoleransi dan ekstremisme kekerasan yang mengancam keutuhan bangsa
  2. Menjadi penggerak perdamaian dengan menghubungkan gagasan dan inisiatif generasi milenial yang menjunjung tinggi nilai kebhinekaan dalam bingkai pancasila
  3. Memimpin dan mempromosikan perdamaian untuk mencegah ekstremisme kekerasan di lingkungan keluarga dan masyarakat
  4. Membangun dan memperluas kerja sama dengan pemangku kepentingan baik pemerintah maupun nonpemerintah untuk mencegah ekstremisme kekerasan
  5. Memberdayakan anak muda Indonesia sebagai pelopor perdamaian dan mencegah ekstremisme kekerasan berdasarkan jenis kelamin, suku, agama, ras, etnis serta segala bentuk intoleransi
  6. Membangun interaksi, relasi, dan kolaborasi antargenerasi milenial dalam mempromosikan perdamaian melalui literasi dan semua media komunikasi demi visi Indonesia emas 2045.